
Cuma Capek, atau Sinyal dari Jantungmu?
Penulis: Irma Mima
Cetakan I, Maret 2026
xii + 256 hlm; 14,8 x 21 cm
"Ah, cuma capek.”
Kalimat sederhana. Tapi bagaimana kalau itu bukan sekadar lelah biasa?
Di usia 40+, tubuh mulai berubah pelan-pelan. Napas tidak sepanjang dulu. Dada kadang terasa penuh. Tidur tak lagi nyenyak. Deg-degan datang tanpa undangan. Tapi kita tetap bilang: cuma capek.
Sebagai dokter jantung, Irma mima melihat satu hal berulang: banyak orang kuat yang terlalu lama mengabaikan sinyal tubuhnya sendiri. Buku ini bukan untuk menakut-nakuti. Bukan juga untuk menghakimi gaya hidupmu. Ini buku tentang kesadaran. Tentang membedakan lelah biasa dan sinyal jantung. Tentang tekanan darah, kolesterol, diabetes, stres, kurang tidur—yang sering dianggap sepele, padahal berdampak besar.
Ditulis dengan bahasa ringan, hangat, dan penuh refleksi, Cuma Capek atau Sinyal dari Jantungmu?mengajakmu lebih peka pada tubuh sendiri, lebih bijak menjalani usia 40+, lebih berani memeriksa sebelum terlambat, dan lebih tenang menjaga ritme hidup.
Karena pada akhirnya: Jantungmu bukan hanya organ, ia adalah penjaga waktumu. Dan setiap detaknya adalah kesempatan.
Penulis: Irma Mima
Cetakan I, Maret 2026
xii + 256 hlm; 14,8 x 21 cm
"Ah, cuma capek.”
Kalimat sederhana. Tapi bagaimana kalau itu bukan sekadar lelah biasa?
Di usia 40+, tubuh mulai berubah pelan-pelan. Napas tidak sepanjang dulu. Dada kadang terasa penuh. Tidur tak lagi nyenyak. Deg-degan datang tanpa undangan. Tapi kita tetap bilang: cuma capek.
Sebagai dokter jantung, Irma mima melihat satu hal berulang: banyak orang kuat yang terlalu lama mengabaikan sinyal tubuhnya sendiri. Buku ini bukan untuk menakut-nakuti. Bukan juga untuk menghakimi gaya hidupmu. Ini buku tentang kesadaran. Tentang membedakan lelah biasa dan sinyal jantung. Tentang tekanan darah, kolesterol, diabetes, stres, kurang tidur—yang sering dianggap sepele, padahal berdampak besar.
Ditulis dengan bahasa ringan, hangat, dan penuh refleksi, Cuma Capek atau Sinyal dari Jantungmu?mengajakmu lebih peka pada tubuh sendiri, lebih bijak menjalani usia 40+, lebih berani memeriksa sebelum terlambat, dan lebih tenang menjaga ritme hidup.
Karena pada akhirnya: Jantungmu bukan hanya organ, ia adalah penjaga waktumu. Dan setiap detaknya adalah kesempatan.



